Tampilkan postingan dengan label Kelistrikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelistrikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Oktober 2014

Macam Warna Kabel Body Sepeda Motor Beserta Fungsinya

Dalam perawatan sepeda motor , kita tidak hanya memikirkan masalah perawatan permesinan saja pada kendaraan kita,ada juga yang tidak kalah penting yaitu perawatan Komponen Kelistrikan pada sepeda motor kita. Motor yang kita pakai sehari-hari memiliki komponen elektrikal yang memiliki banyak fungsi. Mulai membantu ketika akan menghidupkan motor, sampai untuk penerangan ketika malam hari. Setiap Kabel mempunyai warna sesuai dengan fungsinya masing-masing
Fungsi kabel sendiri adalah untuk menghubungkan listrik dari komponen satu ke komponen kelistrikan lainnya. terkadang kita harus mengerti arti/fungsi dari warna–warna kabel kelistrikan pada sepeda motor.Arti warna kabelsepeda motor pada setiap merek kadang berbeda-beda.kalau kita salah menhubungkan kabel tersebut berakibat Fatal bisa mengakibatkan konslet dan terbakar.Berikut adalah penjelasan arti warna kabel kelistrikan pada sepeda motor Yamaha dan Honda :
Berikut ini arti warna kabel kelistrikan pada sepeda motor :
1. HONDA
Hijau : (-) masa, berlaku untuk semua negatif
Merah : (+) aki
Hitam : (+) kunci kontak
Putih : (+) alternator pengisian
(+) lampu dekat
Kuning : (+) arus beban ke saklar lampu
Biru : (+) lampu jauh
Abu-abu : (+) flasher
Biru Laut : (+) sein/reting kanan
Oranye : (+) sein/reting kiri
Coklat : (+) lampu kota
Hitam-Merah : (+) spul CDI
Hitam-Putih : (+) kunci kontsk
Hitam-Kuning: (+) koil
Biru-Kuning : (+) pulser CDI
Hijau-Kuning: (+) lampu rem


2. YAMAHA
Hitam : (-) masa, berlaku untuk semua negatif
Hijau : (+) arus beban penerangan
Merah : (+) arus positif dari aki
Kuning : (+) lampu jauh
Coklat : (+) sein/reting kiri
Hijau : (+) arus beban (penerangan, dll)
Putih-Merah : (+) pulser CDI
Hijau-Hitam : (+) rem


3. SUZUKI
Hitam-Putih : (-) masa, berlaku untuk semua negatif
Putih-Merah : (+) pengisian dari magnet
Putih-Biru : (+) koil ke CDI
Putih-Hitam : (+) lampu rem
Kuning-Putih: (+) penerangan/lampu
Biru-Kuning : (+) pulser ke CDI
Merah : (+) aki
Oranye : (+) kunci kontak
Abu-abu : (+) lampu belakang
Hijau Muda : (+) Sein/reting kanan
Hitam : (+) sein/reting kiri


4. KAWASAKI
Hitam-Kuning: (-) masa, berlaku untuk semua negatif
Putih-Merah : (+) aki
Merah-Hitam : (+) lampu jauh
Merah-Kuning: (+) lampu dekat
Abu-abu : (+) Sein/reting kanan
Hijau : (+) sein/reting kiri
Biru : (+) lampu rem
Merah : (+) lampu belakang
Coklat : (+) klakson


Namun terkadang tidak jarang kita menemui kabel warna yang tidak sesuai dengan fungsi dasar yang telah distandarisasi dari pabrikan asal motor,hal ini terjadi dikarenakan penggantian kabel yang tidak sesuai warna asalnya yang dilakukan oleh mekanik perbaikan motor sebelumnya, oleh karena itu bila menemui kejadian seperti hal tersebut kita dapat menggunakan alat MultiTester untuk menentukan kabel yang terhubung ke komponen serta sekaligus dapat mengecek hubungan kebel yang telah terputus,kabel yang sebenarnya,Demikianlah info  dan penjelasan yang kami berikan tentang arti dan fungsi dari warna kabel pada kelistrikan sepeda motor kita ,semoga bisa membantu anda dalam merawat kelistrikan pada motor anda semoga bermanfaat untuk kalian semua.
Read More

Rabu, 06 November 2013

Lampu Kepala Suzuki Smash Mati

Lampu Kepala Suzuki Smash Mati
Sepeda motor bebek smash adalah salah satu produk dari pabrikan Suzuki. Sepeda motor yang terkenal dengan ciri khas suara mesinnya yang agak kasar  ini, pernah mengalami lampu kepala depannya putus. Hal ini pernah saya alami ketika sedang memperbaiki sepeda motor smash milik adik saya. Lampu kepala dari sepeda motor smash ini sudah diganti bohlamnya, tapi tak berselang beberapa minggu lampu kepalanya putus lagi. Memang umumnya kejadian seperti ini disebabkan karena kiprok yang rusak. Tapi untuk kerusakan kali ini berbeda dari biasanya. Kiprok dalam keadaan baik, sebab aki masih dalam keadaan selalu penuh. Saat distarter aki masih kuat untuk memutar dynamo starter. Kejadian kedua yang membuat ini bukan kiprok yang rusak adalah lampu belakang juga ikut putus. Kesimpulan pun mengarah pada adanya konsleting di instalasi kabelnya.

Pemeriksaan berlanjut dengan membongkar seluruh cover body motor Suzuki Smash. Cover kepala, sayap depan, hingga cover plastik belakang dibongkar seluruhnya. Instalasi kabel pun dapat terlihat jelas. Pengecekan pada kabel di depan, sekitar lampu kepala tidak menunjukkan adanya kabel yang terkupas dan sambungan yang lepas. Pemeriksaan diteruskan ke arah instalasi lampu belakang. Tepat di dekat sambungan lampu belakang yang sudah dekat dengan kedok lampu belakang, terdapat kabel yang terkupas. Kabel tersebut dialiri listrik positif, jadi ketika terjadi sentuhan dengan body sepeda motor yang bermuatan negative, maka  terjadilah konsleting. Saat konsleting inilah lampu kepala dan lampu belakang putus.

Memang putusnya lampu kepala dan lampu belakang ini terjadi saat motor sedang berguncang. Saat terguncang ini sentuhan kabel yang terkupas terkena body dari motor. Dan seperti penyampaian dari pengguna sepeda motor smash tersebut, memang kejadiannya putusnya lampu saat dia melalui jalan tidak rata, entah kenapa tiba – tiba lampu putus. Dan hal ini bukan sekali saja, karena pengguna sepeda motor smash ini sudah sampai 2 kali mengganti bohlam lampu depan, dan  kejadiannya selalu sama saat motor melalui jalan tidak rata atau terguncang lampu pasti putus.

Dari cerita pengalaman pemilik sepeda motor smash yang kebetulan adik saya sendiri, bahwa tidak selamanya putusnya lampu kepala akibat kiprok yang sudah rusak. Kiprok yang rusak tidak akan bisa mengisi aki. Dengan kosongnya aki maka klakson dan starter tidak bisa berfungsi. Tapi pada kejadian ini klakson dan motor starter masih mampu berfungsi dengan suplai listrik dari aki. Jadi bila anda mengalami hal seperti ini, maka kerusakan bukan pada kiprok, tapi rangkaian instalasi kabel ada yang konsleting. Memang untuk mengecek kabel yang konsleting butuh pengetahuan sedikit tentang instalasi listrik dan juga harus sabar dalam menelusuri kabel demi kabel yang kemungkinan mengalami konsleting.
Read More

Sabtu, 26 Oktober 2013

Fungsi Aki Sepeda Motor Atau Mobil

Banyak sekali beredar merk aki, tapi yang kita kenal ada beberapa merk diantaranya aki GS dan aki Yuasa. Kedua merk ini yang sudah lama berkecimpung dalam memproduksi aki di pasaran Indonesia. Pada sepeda motor atau mobil dulunya kita menggunakan aki basah, di mana diperlukan perawatan rutin untuk mengecek air akinya. Sedangkan pada saat ini telah muncul aki bertipe kering. Aki jenis ini memudahkan kita untuk tidak perlu melakukan perawatan. Aki memegang peranan yang sangat penting dalam kendaraan baik mobil atau pun sepeda motor. Untuk itu akan dibahas dalam artikel kali ini.

Fungsi aki yang pertama adalah untuk starter. Pada saat mesin mati dan mau dihidupkan, dibutuhkan tenaga penggerak awal untuk memutar crankshaft / poros engkol, sehingga piston dapat bergerak naik turun , dan terjadilah pembakaran di dalam ruang bakar, dan mesin pun hidup. Setelah mesin hidup, maka starter dimatikan dengan cara melepas hubungan di saklar starter. Untuk menjalankan system starter khususnya dynamo starter maka dibutuhkan suplai listrik, dan suplai listrik ini diberikan oleh aki.

Fungsi yang kedua adalah menyimpan listrik. Pada saat mesin hidup sumber listrik diambil alih oleh alternator pada mobil, sedangkan pada sepeda motor diberikan oleh sepul. Suplai listrik ini tidak semuanya diberikan ke pemakaian untuk kendaraan, tapi ada sebagian yang dikirim ke aki untuk disimpan, istilahnya aki discharge ( dicas). Aki harus mampu menyimpan listrik yang diberikan oleh alternator atau sepul, sehingga aki selalu dalam kondisi penuh ( memiliki cadangan listrik yang cukup untuk menggerakan starter saat mesin awal dihidupkan). Jika aki tidak bisa menyimpan listrik yang diberikan oleh alternator/ sepul, maka jumlah listrik yang ada di aki akan terus berkurang seiring dengan digunakannya starter pada saat mesin akan dihidupkan.

Fungsi yang ketiga adalah stabilisator. Penghasilan listrik yang dihasilkan oleh sepul / alternator jumlahnya tidak selalu konstan. Sebab putaran mesin naik turun seiring dengan pembukaan dan penutupan handle gas yang dilakukan oleh pengendara. Akibatnya putaran yang terjadi di alternator dan sepul adalah cepat atau lambat sesuai dengan putaran poros engkol. Ketika putaran mesin tinggi atau cepat, maka hasil listrik dari alternator / sepul akan tinggi. Sedang saat putaran mesin rendah atau lambat, maka hasil listrik dari alternator / sepul adalah kecil. Besar kecilnya arus listrik dapat merusak komponen kelistrikan yang ada pada sepeda motor / mobil. Untuk itu pada system pengisian dipasangkanlah unit kiprok. Unit ini akan mengatur jumlah listrik yang dikirim ke pemakaian, sedangkan kelebihan arus listrik ini akan dibuang / disimpan ke aki. Untuk ini maka aki harus dapat menyimpan arus listrik seperti pada fungsi kedua. Sebab kalau aki tidak bisa menyimpan arus listrik, maka kiprok akan binggung ( umpamanya) mau dibuang ke mana kelebihan listrik ini.

Jadi sangat jelas aki memegang peranan sangat sangat penting pada mobil dan sepeda motor. Kondisi aki yang sudah soak atau rusak, sebaiknya segera diganti, agar tidak merusak komponen kelistrikan lainnya pada sepeda motor atau pun mobil. Untuk itulah perawatan aki basah wajib dilakukan minimal sebulan sekali. Sedangkan untuk aki kering tidak perlu dilakukan perawatan secara berkala. Dan umumnya untuk aki yang biasa dijual di pasaran hanya berumur 1 ,5 tahun saja. Umumnya setelah lewat 1,5 tahun aki sudah mulai rusak. Jaga dan rawatlah aki pada sepeda motor atau mobil Anda.

Read More

Jumat, 25 Oktober 2013

Hati – hati berurusan dengan kiprok!

Kisah ini pengalaman nyata sahabat saya ketika mengendarai sepeda motor Yamaha mio nya. Ketika melaju di sebuah jalan, tiba – tiba ada pengendara lain berteriak dan memintanya berhenti. Katanya ‘ Pak motornya terbakar, ada asap” Spontan teman saya pun berhenti dan memeriksa sepeda motor yang dia kendarai tersebut. Ketika dilihat keluar asap dari bawh jok dekat tangki bensin. Untungnya kebakaran tersebut tidak sampai membakar bensin di dalam tangki tersebut. Motor pun dibawa ke bengkel dan diservis. Ketika diperiksa ternyata kabel yang masuk ke kiprok sudah meleleh, begitu pula dengan socket plastic yang masuk ke kiprok sudah tak berbentuk lagi. Kesimpulan sementara diduga system pengisian ada yang rusak, maka kiprok sampai terbakar. 

Perbaikan pun dilakukan dengan mengganti kabelnya saja dan tetap menggunakan kiprok yang lama, alasan teman saya kiproknya masih baru. setelah dipasang kembali ternyata sepeda motor tetap menyala dan aman – aman saja. Setelah 2 minggu berlalu,  kejadian yang sama terulang kembali kabel dan socket di kiprok meleleh kembali. Untung kali ini tidak sampai menimbulkan api seperti dalam kejadian sebelumnya. Saya pun menyarankan  kepadanya supaya mengganti kiproknya saja. Pendapat saya kiprok pasti sudah rusak akibat kebakaran yang disebakan konsleting pertama. Dan untuk memastikannya saya pun menyarankan padanya untuk mengecek kiprok dengan cara sebagai berikut:
  1. Hidupkan sepeda motor dan biarkan dalam kondisi langsam selama beberapa menit.
  2. Sentuh dengan tangan bodi dari kiprok. Jika kiprok panas atau hangat, berarti kiprok bekerja dengan baik. Tapi bila bodi kiprok tetap dingin, kesimpulannya kiprok sudah rusak dan harus diganti.

Kembali kepada masalah permasalah kiprok teman saya tersebut, kerusakan kiprok ini membuat arus yang dibuang ke aki menjadi berlebihan akibatnya kabel tak mampu menahan arus yang besar tersebut dan akhirnya terbakar. Jadi rusaknya  kiprok tidak bisa diabaikan begitu saja, mungkin untuk sepeda motor yang lain hanya berdampak putusnya lampu kepala. Tapi pada sepeda motor Yamaha mio kerusakan ini bisa berakibat kematian, sebab timbul kebakaran di socket kiprok. Dan bahayanya adalah kiprok ini terletak dekat sekali dengan tangki bensin.
Read More

Kamis, 17 Oktober 2013

Aki Soak - Lampu Kepala Putus

Saya memiliki sebuah sepeda motor Honda Supra PGM Fi, dengan teknologi sudah injeksi. Setelah 3 tahun pemakaian aki sepeda motor Supra saya tersebut rusak alias soak. Akibatnya setiap akan menghidupkan sepeda motor harus mengengkol kick starter, hal ini karena electric starter tidak berfungsi. Tapi sepeda motor tetap bisa hidup, walau harus tahu teknik mengengkolnya. Singkat cerita sepeda motor tetap saya gunakan walau tanpa aki (aki soak). Dan apa yang terjadi ? Lampu kepala depan sepeda motor mati, kebetulan lampu sepeda motor Supra ada 2, jadi masih ada 1 yang menyala. Tapi selang beberapa bulan lampu depan yang satunya pun ikut mati. Mau tidak mau saya servis juga lampu depan dan mengganti kedua bohlam lampu depan tersebut. Alhasil lampu pun dapat menyala kembali. Tapi sayangnya hanya bertahan beberapa bulan lampu kepala pun mati lagi satu. Dan seperti sebelumnya lampu satunya tetap hidup. Tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, maka saya pun segera mengganti aki, saya agar lampu kepala tidak putus terus. 

Mungkin anda pernah mengetahui secara lisan dari orang bahwa jika lampu kepala putus, umumnya disebabkan karena kiprok rusak. Tapi dalam kasus kali ini, bukan kiprok yang rusak, melainkan disebakan aki yang sudah soak. Aki selain sebagai tempat menyimpan listrik, tapi juga sebagai stabilizer listrik. Suplai listrik pada sepeda motor dihasilkan dari sepul. Listrik yang dihasilkan berbeda berdasarkan kecepatan putaran mesin. Kecepatan putaran mesin yang tinggi akan menghasilkan listrik yang besar. Kecepatan putaran mesin yang rendah akan menghasilkan listrik yang rendah. Pada saat listrik rendah tidak akan menjadi masalah pada rangkaian kelistrikan. Tapi pada saat listrik besar hal ini menjadi masalah karena itu dibutuhkan aki untuk menampung kelebihan listrik tersebut. Pada saat kelebihan listrik tidak bisa ditampung maka rangkaian lampu kepala yang akan terkena dampaknya. Dan pengaturan kelebihan listrik ini diatur oleh kiprok.

Jadi tidak selamanya kasus lampu kepala putus, diakibatkan oleh kiprok. Aki yang sudah rusak atau soak akan mengakibatkan lampu kepala bisa putus juga. Aki inilah yang akan menampung kelebihan listrik yang dihasilkan oleh sepul. Sedangkan bila aki rusak, maka kelebihan listrik tidak bisa ditampung oleh aki.
Read More

Kamis, 26 September 2013

Alarm Pencuri Mobil

Salah satu pengalaman terburuk bagi seorang pemilik mobil adalah peristiwa pencurian atau perusakan mobilnya, karena barang - barang seperti cassette player atau barang lainnya sangat menyolok dan mudah dicuri. Ada banyak alarm mobil yang telah dibuat orang, pada umumnya mereka memberikan sinyal peringatan bila pintu yang dipasangi saklar mikro dibuka tanpa mematikan sistem alarmnya terlebih dulu. Alarm pencuri mobil yang dipaparkan di sini tidak hanya memberikan bunyi peringatan saja, bila ada perangkat elektrik (termasuk lampu interior) dihidupkan oleh orang yang tak dikenal, tetapi alat ini juga "mematikan" mobil, sehingga seolah - olah tak dapat dikendarai. Meskipun begitu sesungguhnya alarm ini tidak mampu mencegah terjadinya peristiwa pencurian, tapi paling tidak ia membantu kita menghalang - halangi niat pencuri tersebut.

Cara kerja rangkaian

Alarm Pencuri MobilGambar di bawah ini menunjukkan diagram rangkaian alarm pencuri mobil. Unit ini cocok digunakan untuk kedua sistem bumi, baik sistem bumi positif maupun sistem bumi negatif. Dasarnya adalah sebuah penguat operasional 741 yang berfungsi sebagai pendetekssi adanya perubahan tegangan kecil dalam jalur catu dari baterai mobil. Karena tegangan catu ini selalu stabil dan bebas derau ketika mobil tidak dijalankan, maka alarm dapat disetel untuk memicu segera akibat turunnya tegangan sedikit secara mendadak ketika lampu interior dinyalakan (sewaktu filamen lampu ini dingin, resistansinya kecil). Ketika dinyalakan, arus beberapa ampere akan mengalir, sehingga tegangan pada sistem elektrik mobil jatuh. R1 dan R2 membentuk pembagi tegangan yang akan mengisi C1 hingga separuh tegangan catu. Tegangan ini diberikan langsung pada masukkan tak membali IC1. R3, VR1 dan R4 membentuk pembagi tegangan pada catu dan tegangan slider VR1 diberikan pada masukan membalikan IC1. Bila daya diberikan pada rangkaian alarm melalui salah satu sakla pengizin, maka tegangan pada slider VR1 akan naik dengan cepat bila dibandingkan C1, akibatnya keluaran IC1 dipaksa berubah ke dalam kondisi tegangan rendah. Bila VR1 disetel dengan tepat, maka tegangan mantap pada pena 2 IC1 akan sedikit lebih tinggi daripada pena 3 Bila teganan catu turun secara mendadak, tegangan pada slider VR1 ikut jatuh, sementara tegangan pena 3 IC1 tetap dipertahankan oleh C1. Jadi, pada saat itu masukan tak membalik dan karena penguatan op-amp amat tinggi, maka kelurannya dikemudikan pada tegangan tinggi mendekati tegangan catu. Keadaan ini tetapi dipertahankan sampai reset karena kini tegangan C1 dipertahankan mendekati keluaran IC1 melalui R5 dan D1. Alarm kini dalam kondisi 'dipicu'.

Separuh rangkaian lainnya adalah multivibrator astabil (osilator) yang didasarkan atas IC2 yakni pewaktu 555. Bila keluaran IC1 memiliki tegangan rendah, pena 4 (pena reset) IC2 ditahan rendah melalui R6, karena itu dioda zener D2 memiliki tegangan memadai untuk menghantarkannya. Dalam keadaan demikian keluaran IC2 (pena 3) dipaksa turun pada tegangan rendah. Setelah perubahan catu terdeteksi, keluaran IC1 menjadi tinggi, menjadikan pena reset IC2 tinggi, akibatnya kini fungsi beralih pada modus astabil. Keluaran segera dikemudikan tinggi, menyebabkan relay menjadi on dan C4 mengisi melalui R7 dan R8 mendekati tegangan catu. Ketiak mencapai dua pertiga tegangan catu, keluaran dikemudikan rendah dan C1 mengosongkan muatannya melalui R8 menuju pena 7 IC2. Bila tegangan kapasitor telah turun di bawah sepertiga tegangan catu, siklus pengisian akan berulang kembali dengan pena 3 dikemudikan tinggi. Jadi kontak relay dibuka tutup pada laju yang ditentukan oleh R7, R8, dan C4, kurang lebih 1,5 kali per detik untuk nilai komponen yang diperlihatkan. D3 dan D4 melindungi IC2 dari spike induktif. Kontak relay dapat digunakan untuk beberapa hal, antara lain sebuah kontak untuk menangani horn, sebuah lainnya untuk pemutus kontak, sehingga mobil seolah - olah tak dapat dikemudikan sekali alarm telah dihidupkan. Alarm dapat direset dengan mematikan catu selama dua sampai tiga detik.

Pemilihan komponen

Dua buah komponen paling kritis adalah kapasitor elektrolit. C1 sebaiknya dari jenis tantaluim dengan bocoran rendah. C4 disesuaikan menurut pewaktuan astabil, tetapi pewaktuan ini paling mudah disetel dengan mengubah - ubah R8 untuk mendapatkan laju yang memuaskan, resistansi yang lebih besar akan memberikan periode waktu on relay yang lebih lama. C3 sebaiknya dari jenis cakram keramik dan dihubungkan pada pnea catu IC1 (7 dan 4) sedekat mungkin. Relay yang digunakan adalah jenis 6-12V, arus kerja yang diperlukan kurang dari 100 mA. Banyaknya pasangan kontak yang diperlukan tergantung pada fasilitas alarm yang dibutuhkan oleh perancangnya.

Konstruksi dan pemasangan

Alarm Pencuri MobilGambar di bawah ini menunjukkan tata letak komponen papan strip matrik tembaga 0,1 inci (24 strip x 17 lubang), beserta pemutusan jalur tembaga yang diperlukan. Relay yang digunakan dalam prototi[ buka dari jenis rangkaian tercetak,  komponen ini ditempatkan terpisah dari papan. Tata letak mobil akan sangat menentukan posisi terbaik penempatan papan rangkaian lengkap, yang tentu saja harus disembunyikan. Dalam prototip digunakan dua buah pasangan kontak relay, sebuah langsung dihubungkan  pararel terhadap pemutus kontak. Yang terakhir in benar - benar menjadikan mobil terkunci setelah alarm dihidupkan, dan ketika relay diaktifkan pulsa - pulsa pengapian pada koil akan berhenti. Bila pengapian elektronik tidak dipasang, pasangan kontak yang dipakai di sini perlu  dari jenis heavy duty (sekurang - kurangnya 10A atau anda dapat mengawati dua pasangan relah atau lebih secara pararel). Keistimewaan sistem lainnya adalah  tersedianya fasilitas pengizin/ pemutus penyambungan. Dua buah kemungkinan ditunjukkan pertama adalah saklar kunci yang dipasang secara tersembunyi dan dapat diraih tanpa mengoperasikan perangkat elektrik mobil, kedua menggunakan saklar internal dan eksternal. Saklar internal akan menghidupkan alarm (ketika mobil ditinggalkan pemiliknya) setelah pintu mobil dibuka untuk pertama kalinya dan lampu penolong dinyalakan. Sementara itu saklar eksternal yang diletakkan tersembunyi digunakan untuk mematikan alarm sebelum pintu mobil dibuka. Saklar mikro dan lampu - lampu juga dapat dipasang pada belakang pintu mobil, bila diinginkan daerah perlindungan yang lebih luas.

Pemasangan

Putarlah VR1 penuh searah jarum dan hubungkan rangkaian alarm pada sistem elektrik mobil, namun kontak relay belum dipasang. Hubungkan voltmeter di antara pena 6 IC1 dan jalur catu negatif, akan terlihat pembacaan 2 V kira - kira. Putarlah VR1 pelan - pelan sampai rangkaian memicu dan voltmeter menunjukkan 12 V, sekarang putarlah VR1 sedikit pada arah sebaliknya. Bila rangkaian terpicu, relay akan berbunyi klik on dan off pada laju yang teratur. Matikan rangkaian, hidupkan kembali setelah beberapa detik. Tegangan pada pena 6 IC1 akan rendah. Bukalah pintu mobil sehingga lampu interior  menyala ketika rangkaian memicu. Kepekaan uni ini dapat disetel sehingga dengan arus sedikit saja alarm akan terpicu atau rangkaian alarm baru akan bekerja ketika motor starter diputar.
Read More

Pewaktu Parkir


Unit ini diperuntukkan bagia mereka yang terbiasa memakai meter parkir. Dengan unit ini diharapkan kejadian yang merugikana anda dapat dicegah, seperti misalnya anda harus mengeluarkan ongkos lagi karena lewat dari batas waktu parkir yang ditentukan. Dengan kata lin, piranti ini memberikan sinyal peringatan entah satu atau dua jam setelah ia dihidupkan,sehingga anda terbebas dari beban ongkos parkir tambahan. Unit ini dapat dimasukkan dalam saku atau tas untuk mengingatkan anda kapan anda harus kembali ke mobil.

Cara kerja rangkaian

Diagram rangkaian pewaktu parkir diperlihatkan pada gambar di bawah IC1 adalah suatu quadruple yang dikemas dalam dua buah masukan CMOS gerbang NAND, ketiga gerbangnya berkaitan dengan resistor R1, R2, VR1, dan C1, berguna untuk memperlambat osilator dari jenis serupa dengan yang dipakai pada proyek pengawas pengemudi. Karena rangkaian ini diberi daya dari sebuah baterai 9V yang mungkin diaktifkan (on), meskipun itu tidak menghidupkan buzzer peringatan sebelum jangka waktu dua jam terlampui, namun sebaiknya rangkaian dirancang dengan daya yang amat rendah, untuk itu anda dapat menggunakan gerbang CMOS dan pencacah. VR1 dapat menyetel periode waktu osilator hingga 40% agar variasi karakteristik gerbang CMOS dapat diubah - ubah. Keluaran osilator diumpankan pada masukan clock IC2, yaitu pencacah biner 14 tahapan, yang diteruskan pada sisi negatif dari masing - masing pulsa clock. Jadi Q13 beranjak dari logika 0 ke logika 1 setelah 4096 pulsa, dan Q14 beranjak dari logika 0 ke logika 1 setelah 8192 pulsa. Salah satu dari keluaran - keluaran ini dipilh oleh SW1 untuk memberikan sinyal ' pengizin' bagi gerbang IC1 sisanya. Ketika keluarannya tinggi, sinyal osilator diizinkan masuk melewati gerbang menuju basis TR1 melalui R4. Transistor ini akan menghantar bila keluaran gerbang rendah, karena itu bila keadaan ini tercapai, maka pada buzzer peringatan WD1 akan mengalir pulsa - pulsa daya yang akan mengaktifkannya. R6 dan C3 memberikan catu 6V yang dikopel balik untuk buzzer. Saklar memilih perlambatan 1 atau 2 jam sebelum buzzer diaktifkan, sehingga frekuensi osilator akan menjadi 4096/3600 atau 1,138Hz. C2 memberikan pulsa positif untuk pena reset IC2 ketika rangkaian dihidupkan, akibatnya penghitung mulai menghitung maju dari kondise semua nol. Bila pewaktu akan direset sewaktu - waktu , pasang saklar on/ off.
Pewaktu Parkir
 

Konstruksi

Gambar di bawah ini menunjukkan tata letak komponen papan strip matrik tembaga 0,1 inci ( 19strip x 37 lubang), beserta pemutusan jalur tembaga dan kawat sambungan yang diperlukan. Untuk menempatka IC atau pena - pena soldercon. Komponen diskrit sebaiknya ditaruh lebih dulu, baru kemudian pemegang IC dan kawat - kawat sambungnya. Rangkaian terpadu itu sendiri diletakkan paling akhir, perhatikan cara penanganannya. Sebaiknya buzze dan baterai juga ditaruh dalam papan rangkaian. Baterai dipasang pada papan dengan isolasi PVC dan dihubungkan dengan kawat serat tunggal, sementara buzzer ditempatkan dalam kotak dengan sekerup jenis ini. Disarankan memakai kotak  plastik, karena ini menjamin hubung singkat tak akan terjadi dalam kotak Siapkan lubang dudukan untuk menempatkan kedua saklar, siapkan pula dengan lubang - lubang kecil di atas buzzer, agar suara dapat terpancar dengan jelas. Supaya tidak berguncang - guncang, pasanglah baterai dengan double sided adhesive foam tape. Perhatikan bahwa R5 dihubungkan dari titik tengah SW1 pada hubungan 0V rangkaian pada SW26
Pewaktu Parkir

Pemasangan dan pemakaian unit

Sebelum menghubungkan titik tengah SW1 ke dalam rangkaian, sambungkan seutas kawat sementara di antar pena 6 IC1 dan jalur catu positif. Berikan daya dari baterai 9 V. Buzzer akan mengeluarkan pulsa - pulsa peringatan kurang lebih sekali setiap detiknya. Aturlah RV1 agar diperoleh laju mantap sekitar 25 pulsa per 20 detik (1,25Hz). Bila laju ini tak dapat dicapai, misalkan terlampau cepat cobalah perbesar R2 (sekitar 1 Mohm), dan bila terlampau lambat cobalah perkecil R1 (sekitar 470 kohm). Laju 1,25 Hz akan memberikan perlambatan sekitar 55 menit dalam posisi saklar 1 jam dan 110 menit untuk posisi saklar 2 jam, sehingga sisa waktu memadai bagi Anda untuk kembali ke mobil begitu mendengar bunyi peringatan. Hubungkan pena 6 IC1 pada saklar SW1, periksalah apakah waktu ini benar. Arus yang dibuang dari baterai PP3 seharusnya kurang dari 1 mA dan ketika buzzer berbunyi arus ini naik menjadi sekitar 10mA.
Pewaktu Parkir

Daftar komponen untuk pewaktu parkir

Resistor (1/4W,5%, film karbon)
R1    1 Mohm
R2   180 kOhm
R3   33 kOhm
R4    22 kOhm
R5    100 kOhm
R6    180 ohm
VR1  1 Mohm, preset horisontal mini

Kapasitor
C1   1,0 uF, polykarbonat (atau jenis non elektrolit lainnya)
C2    4,7 uF, elektrolit

Semikonduktor
IC1    CD4011AE, gerbang NAND 2 masukan quad
Ic2     CD4020AE,pencacah biner 14 tahapan
TR1   BC178

Lain - lain
WD1  buzzer solid state 6 V (arus kerja kurang dari 50mA)
SW1   saklar geser DPDT (hanya SPDT yang dipakai)
SW2   saklar geser DPDT (hanya SPDT yang dipakai)
Pena - pena soldercon atau pemegang IC
Papan strip matrik tembaga 0,1 inci (19 strip x 37 lubang)
Veropin, 7 buah
Kotak plastik untuk wadah
Baterai PP3 9V
Penjepit baterai PP3 yang cocok
Read More

Selasa, 24 September 2013

Pengapian Elektronik

Dalam beberapa tahun belakangan ini orang telah berhasil menciptakan rangkaian - rangkaian pengapian elektronik, mulai dari pengapian transistor sederhana, yang hanya menyingkirkan beban arus dari titik pemutus kontak, sampai kepada sistem pengapian pengosongan muatan kapasitif yang canggih, yang disertai pembatasan kecepatan mesin, pewaktuan tanpa kontak, dan pengendalian tegangan konstan kapasitor pengosongan. Dengan sistem ini dinyatakan bahwa keandalan sistem berhasil ditingkatkan. Namun pada kenyataannya yaitu sebelum sistem pengapian elektronik dipasang pada mobil, kebanyakan mobil memiliki setelan pewaktuan yang kurang layak, karena aksi itu pemeriksaan sistem pengapian belaka tidak akan banyak menoling meningkatkan keandalan mboil.

Rangkaian yang dipaparkan di sini secara kasar melukiskan prinsip sistem pengapian pengosongan muatan kapasitif (CDI = Capasitive Discharge Ignition). Unit ini menawarkan banyak keuntungan, di antaranya ia tidakperlu diperluas untuk menggantikan titik - titik pemutus kontak dengan metode pewaktuan pengapian tanpa kontak. Keuntungan utamanya adalah plug dan titik pemutus kontak akan bertahan lebih lama, selain itu penyalaan mesin konsisten terhadap tegangan baterai yang kecil. Yang patut dicatat juga adalah pengiritan jumlah pemakaian bensin pada kecepatan mesin yang tinggi, karena efek getaran kontak  telah diturunkan, sehingga pewaktuan dapat dipertahankan secara konsisten. Erosi busi akan berkurang, karena arus bunga api terdiri atas dua paruhan siklus yang berlawanan namun hampir sama besarnya, sementara itu arus pemutus kontak telah diturunkan sampai 250 mA saja, sehingga dapat dipastikan bahwa cadangan oksigen dan pelumas tersedia cukup layak pada kontak.

Cara kerja rangkaian

Rangkaian pengapian elektronik untuk kendaraan sistm bumi negatif diperlihatkan dalam gambar di bawah ini. TR1, TR2, R1. R2, dan lilitan primerT1membentuk suatu multivibrator astabil yang frekuensinya tergantung pada tetapan waktu L/R yaitu induktansi diri pada masing - masing paruhan lilitan primer T1 dan resistansi total R1 dan R2. Kurang lebih gelombang persegi dengan polaritas berlawanan akan muncul pada kolektor TR1 dan TR2 . akibatnya dua buah paruhan lilitan primer trafo masuk ke dalam push - pull. Keluaran penaik tegangan lilitan sekunder trafo akan diserahkan oleh jembatan dioda D4 - D7, sehingga tegangan 350 V kiran - kira akan muncul melintasi anoda ke katoda CSR1 bila unit pengapian tidak dibebani (mesin tidak dihidupkan). Jadi C3 mengisi melalui koil pengapian dengan R3 sebagai pembatas arus pengisian. Dengan anggapan C2 tidak bermuatan ketika pemutus kontak membuka, oleh R6 pulsa arus dialirkan menuju C2 melalui lintasan maju impedansi rendah D8 dan persambungan gerbang - katoda CSR1. Dengan pulsa ini, CSR! akan on dengan cepat, sehingga C3 dapat mengosongkan muatannya ke dalam lilitan primer koil pengapian. Kenaikan arus yang amat cepat dalam lilitan primer ini akan menginduksi pulsa tegangan yang amat besar dalam lilitan sekunder, yang selanjutnya akan diumpankan menuju busi  melalui distributor. Karean muatan C3 terkuras, arus pulsa akan berkurang menuju nol, CSR1 off, sejumlah energi pulsa tersimpan sebagai energi medan magnet dalam koil pengapian. Dan karena medan menghilang, GGL mundur yang diinduksian dalam lilitan primer akan mengisi lagi C3 memlui dioda- dioda dalam jempatan penyearah secara parsial. dan selanjutnya siap untuk menerima pulsa berikutnya. Dalam periode yang singkat selama CSR1 on, R3 akan membatasi arus dari transformator inverter dan memastikan bahwa kondisi hubung singkat tidak akan mempengaruhi kerja inverter. Setelah pulsa berlalui, C2 masih tetap mengisi sampai pemutus kontak menutup kembali, di mana komponen ini akan mengosongkan muatannya secara lamabat melaui R5, dengan D8 mendapat tegangan panjarnya secara lambat melalui R5, denga D8 mendapat tegangan panjar mundur. Aksi ini secara sporadis membatasi pemicuan yang disebabkan oleh getaran pemutus kontak yang sering terjadi pada kecepatan mesin yang tinggi. Dengan cara yang sama dia juga membatasi kecepatan mesin pada suatu nilai ketika pengosongan muatan secara memadai berlangsung melalui R5, sementara pemutus kontak masih tertutup agar nantinya dapat memberikan pulsa pemicu yang diperlukan ketika pemutus membuka kontak lagi. Dalam sistem yang konvensional, baterai 12 V dihubungkan melintasi lilitan primer koil melalui pemutus kontak, lazimnya juga melalui resistor balast 1 ohm atau kurang. Jadi bila titik pemutus kontak ini tetutup , arus yang besar akan mengalir melalui koil, meskipn kenaikan arus ini diperlambat akibat adanya induktansi lilitan primer koil, meskipun kenaikan arus ini diperlambat akibat adanya induktansi lilitakn primer koil dan GGL  penggerak yang kecil. Ketika titik ini membuka, arus dipaksa berhenti dengan cepat, akibatnya pada gulungan primer koil pengapian akan terjangkit GGL mundur yang besar yang selanjutnya akn ditingkatkan oleh gulungan sekunder koil dan diumpankan pada busi melalui distributor. Setelah unit pengapian elektronik terpasang, arus dalam titik pemutus kontak akan berkurang sampai kira - kira 250mA dan tak induktif, jauh lebih kecil bila dibandingkan arus 10A atau lebih dan induktif dalam sistem yang konvensional. Bagi anda yang telah berpengalaman , versi unit untuk kendaraan sistem bumi positif dapat anda kerjakan dengan menggunakan transistor untuk membalikkan sisi negati yang diperoleh bila pemutus kontak membuka, sehingga pulsa menuju positif dapat dicatukan untuk memicu CSR1.
Pengapian Elektronik



Pemilihan Komponen

Bila detil konstruksi yang diberikan di sini diikuti, tak ada hal - hal yang akan menyulitkan Anda. D4 - D7 memiliki batas tegangan 1000V untuk pengamannya, sedangkan D2 , D3 dan D8 dipilih dengan jenis yang sama untuk kesesuaiannya, batas tegangan mundurnya bisa mencapai 100 V. C3 harus dari jenis kualitas tinggi, sebab ia akan menahan arus pengosongan puncak yang tinggi. Kapasitor ini memang dirancang secara khusus untuk unit pengosongn kapasitif yang disarankan di sini. Komponen kritis berikutnya adalah thyristor, untuk ini di sini dipilih jenis 2N4444. Komponen ini mampu menahan arus sentak yang amat tinggi, di samping itu chip internalnya relatif besar mampu mendisipasikan energi puncak yang besar. Transformator T1 yang digunakan dalam inverter adalah transformator jala - jala standar yang memiliki dua buah lilitan sekunder 9V yang masing - masing memiliki batas arus 500mA.

Konstruksi 

Pekerjaan ini diawali dengan membangun rakitan tagboard kecil seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Tagboard ini memuat rangkaian pemicu dan jembatan penyearah. Veroboard tidak dianjurkan di sini, karena penyearah akan menangani tegangan sebesar 350 - 400 V. Lubangilah kotak alumunium yang sesuai untuk menampung seluruh komponen, tempatkan kedua transistor TR1 dan TR2 dengan isolasi mika, tambahkan isolasi plastiknya dan berikan perekat silikon. Periksalah apakah transisor - transistr tersebut telah terisolasi secara elektrik dengan kotak. Dioda D2 dan D3 disolderkan melintasi persambungan emiter - basis TR1 dan TR2, amati polaritasnya, sementara resistor R1 dan R2 dihubungakan di antara basis yang satu dengan kolektor yang lain. Kini transformator dapat dipasang dengan, tag solder untuk hubungan tanah ditempatkan di bawah sekrup dudukan, dan terminal lilitan '0' dihubungkan pada terminal lilitan '9' yang lain melalui persambungan D1 dan C1 pada tagboard. Terminal lilitan sekunder dapat dihubungkan pada titik - titik yang bersesuaian dalam tagboard. Tempatkan CSR1 menggunakan isolasi mika, perekat silikon, dan sekrup nylon melalui lubang tengah untuk keamanannya. Kapasitor pengosongan C3 ditaruh dengan aman dengan penjepit. Sebuh blok konektor sekerup plastik pada bagian luar kotak dalam prototip di sini. Gunakan rubber grommet untuk menangani kawat yang mencuat dari kotak, oleskan cairan tersebut setelah anda merakitnya agar diperoleh segel yang rapat. Pada gambar di atas menunjukkan rakitan dan detil antar hubungannya.
Pengapian ElektronikPengapian Elektronik

Pemasangan unit

Pilihlah permukaan datar yang cocok dekat koil, dalam bilik  mesin jauh dari sumber panas, untuk menempatkan unit ini. Siapkan empat buat lubang dudukan di setiap sudut kotak untuk menempatkan unit. Oleskan perekat secukupnya di sekitar lubang dudukan, gunakan pelat tahan goncangan untuk menyakinkan adanya kontak elektrik yang baik di antar kotak dan metal. Singkirkan kedua kawa tegangangan rendah dari koil dan periksalah apakah resistansi ballast telah dipasang entah dalam bentuk resistor atau dalam bentuk kawat resistansi dalam kawat aslinya di antara koil dan saklar pengapian. Hubungkan kawat ini pada terminal catu pengapian elektronik tanpa melepaskan kawat resistansi terlebih dulu. Hubungkan kawat yang lain, yang sebelumnya dihubungkan oleh koil pada pemutus kontak, pada terminal CB (pemutus arus). Hubungkan kawat dari terminal koil bertanda + pada terminal coil  + dan kawat koil terakhir dari hubungan - koil pada terminal ground (tanah) uni ini. Antar hubungan ini akan dibuat dengan kawat yang mampu menangani arus sekurang - kurangnya 4A (disarankan menggunakan kawat serat 23/0,2 atau yang lebih tebal), dan pakailah konektor lucar blade 0,25 inci untuk menyesuaikan dengan terminal yang ada. 
Hubungkan voltmeter pada kisar 500 V atau lebih di antara anoda CSR1 dan tanah. Hidupkan pengapiannya, periksalah apakah tegangan ini bernilai 300 - 400 V, bila inverter bekerja dengan baik, trafo akan mendengung. Hidupkan mesin secara normal, amatilah tegangan yang melintasi CSR1, nilainya tak boleh lebih rendah dari 150 - 200 V ketika keceptan mesin dinaikkan hingga kurang lebih 6000 putaran / menit. Bila ini tidak memperbaiki situasi yang ada, cobalah terlebih dahulu dengan memintas resistansi ballast jika ada. Bial masih belum berhasil, maka kemungkinan transistor inverter yang digunakan berasal dari kualitas yang jelek atau salah satu dioda D4 -D7  dalam jembatan penyearaha ada yang rusak atau memang transformator inverternya memiliki batas arua yang rendah. Tampaknya untuk komponen thyristor CSR1 dan kapasitor pengisian C3 (kedua komponen ini sering rusak) yang dipilihkan di sini jarang rewel kecuali anda sial. Kedua komponen ini memang amat diperlukan dan dalam pemakaiannya mereka mendapat tekanan yang tinggi sehingga sering rusak. Bila digunakan komponen substandar, unit pengapian boleh jadi akan gagal bekerja pada saat yang tidak menguntungkan, misalnya ketika mobil dijalankan dalam kecepatan yang tinggi. Sistem pengapian ini dapat diubah dari elektrik ke konvensional dengan cepat hanya dengan memasangkan kembali kedua kawat koil pengapian sebelumnya, agar unit ini tidka dapat beroperasi sama sekali. Setelah unit terpasang, lakukan pengujian pewaktuan pada titik - titik pemutus kontak dan spark plug yang baru untuk memastikan apakah mobil telah disetel dengan baik untuk jangka waktu yang lebih lama dibandingkan sistem yang konvensional. Beberapa sistem elektronik menyatakan keuntungan - keuntungan tambahan bila celah busi diperlebar, namun dalam praktekya dianjurkan untuk melebarkannya di ats 1,5 kali panjang aslinya, sebab tekanan tambahan akan dikenakan pada isolasi lilitan koil pengapian. 

Daftar komponen untuk pengapian elektronik

Resistor
R1, R2   --> 22O Ohm, 5W, lilitan kawat
R3         -->  4,7 kilo ohm, 5 W, lilitan kawat
R4         -->  100 ohm, 1/4 W, 5% . film karbon
R5         -->  10 kilo ohm , 1/4 W, 5%, film karbon
R6         -->  47 ohm, 5 W, lilitan kawat

Kapasitor
C1        1000uF, 25V, elektrolit
C2         47nF, 250V, polyester
C3         1 uF, 1000V DC (440V AC), dielektrik campuran
C4         10 nF, 500V, cakram keramik

Semikonduktor
D1            1N5401 (3A, 100V, dioda) 
D2 - D8     1N4007, (1A, 1000V, dioda)
                 (D2, D3, dan D8 boleh dari jenis 1 N4002, 1A, 100V)
CSR1       2N4444, thyristor (8A, 600V, tahan sentakan arus tinggi)
TR1, TR2  23055 (RCA, lebih disukai motorola)

Lain - lain
T1               Trafo, sebuah lilitan primer 240 V, dua buah lilitan sekunder 0-9V atau sebuah lilitan sekunder 9-0-9V, dengan batas arus 1/2A (daya total (A)
Tagboard
Kit dudukan untuk TR1, TR2, dan CSR1
Blok terminal sekerup plastik 4 jalur
Kotak
Konektor yang cocok
Read More

Lampu Pewaktuan


Salah satu faktor terpenting yang menentukan penampilan mobil modern adalah pewaktuan pengapiannya. Banyak perangkat mekanik mengandalkan 'telinga' untuk melakukan tugas penyetelan mobil, untuk tugas inilah perangkat elektronik mengambil peranan. Lampu pewaktuan pengapian yang dipaparkan dalam proyek ini lebih murah harganya daripada ongkos  penyetelan mobil yang diminta oleh bengkel. Unit ini dibangun untuk mengatur pewaktuan pengapian mobil Anda, dia menggunakan tabung kedip xenon lampu sinar putih dan bukan tabung sinar neon yang dipakai dalam lampu strobe komersial murahan, yang nampaknya tidak ada manfaatnya sama sekali kecuali dalam keadaan gelap gulita.

Cara kerja rangkaian 

Invverter (pembalik) menghasilkan tegangan 300 - 400V untuk mengoperasikan tabung kedip xenon secara tepat. Dasarnya adalah sebuah multivibrator L/R yang tersusun atas TR1, TR2, R1, R2 dan dua buah paruhan T1 lilitan tegangan rendah. Cara kerjanya tak jauh berbeda dengan rangkaian pengapian elektronik yang digambarkan dalam proyek yang akan datang. Tegangan bolak balik yang muncul pada T1 lilitan tegangan tinggi akan disearahkan oleh jembatan dioda D4 - D7 dan selanjutnya diperhalus oleh C2 untuk memberikan tegangan stasioner sekitar 400V melintasi komponen ini. Pulsa - pulsa pemicu tabung disadap dari pick up coil , L1, yang dililitkan pada cincin ferrit yang dalam pemakaiannya dikenakan pada kawat HT untuk spark plug no.1 . Ketika besi tersulut, pulsa arus dalam kawat HT secara induktif akan terkopel pada L1 dan akan disadap melalui pengatur kepekaan VR1 dan C3 pada gerbang CSR1. Ketika CSR1 tersulut oleh pulsa ini, C4 dikosongkan muatannya ke dalam transformator pulsa picu T2 yang memberikan pulsa EHT sekitar 4kV pada elektroda gerbang tabung kedip. Pulsa tegangan yang amat tinggi ini menyebabkan gas dalam tabung akan sedikit terionisasi, dan ternyata ionisasi ini mampu mematahkan eksistasi longsoran gas di bawah medan elektrik yang disokong oleh kapasitor yang ditempati C5. Selanjutnya akan terlihat kedipan yang menyilaukan , karena terkurasnya muatan pada C5, kendati demikian resistor R6 harus cukup besar agar CSR1 tidak dipicu sekali saja.  Kedipan menyilaukan tadi dipancarkan setiap kali silinder no.1 tersulut. Tetapan waktu R6 - C5 dan R5 - C4 telah dipilih sehingga kapasitor mengisi lagi melampui 90% tegangan yang disediakan oleh inverter dalam periode waktu di antara penyulutan tabung kedip. Laju kedip maksimum yang dapat dicapai kurang lebih 60 per detik yang sepadan dengan 7200 putaran / menit pada mesin 4 silinder.
Lampu Pewaktuan


Konstruksi

Bila dibangun sebagai unit tunggal, perangkat ini dapat ditempatkan dalam kotak dengan konstruksi serupa yang digunakan dalam unit pengapian elektronik. TR1 dan TR2 ditempatkan pada salah satu sisi kotak , komponen - komponen lainnya yang merupakan rangkaian pemicu ditempatkan pada tagboard, alasannya karena melibatkan tegangan tinggi. Pick up coil L1 dibuat dari kawat serat tunggal 25 lilitan, dibungkus dengan isolasi PVC dan ditempatkan pada cincin ferrit dengan diameter sebelah dalam 1 inci. Hubungan dari sini ke bagian rangkaian utama dibuat dari kabel lilit dari kawat serupa dengan panjang secukupnya. Tabung kedip dan kapasitor pengosongan keduanya ditempatkan dalam botol plastik, tabung kedip dipasang pada octal plug, sementara kapasitor pengsosongan disolderkan langsung pada tag - tag dari mating octal socket. Plug dan soket dipasang erat - erat ke dalam botol plasti tersebut, bila masih terasa longgar bisa anda gunakan perekat epoxy. Supaya tampak akhirnya bagus, sehingga dengan sedikit modifikasi tabung kedip dapat dimuat. Catu daya diambil dari kedua kawat lepas dengan penjepit buaya direkatkan pada saat baterai dibutuhkan.
Lampu Pewaktuan

Pemilihan komponen

T1 adalah transformator jala - jala serupa dengan yang digunakan dalam unit pengapian elektronik, sementara T2 adalah transformator pulsa yang khusus dirancang untuk menyulut tabung strobe xenon dan telah tersedia dengan tabung tersebut. Detail L1 telah ditemukan dalam paragraf sebelumnya. Komponen lain nampaknya tidak terlalu kritis, meskipun untuk kapasitor C5 orang lebih menyukai menggunakan kapasitor non elektrik dari jenis heavy duty mixed dielectric conduction. Thyristor CSR1 tidak menuntut persyaratan yang tinggi  seperti halanya dalam rangkaian pengapian elektronik, jenis yang murah juga disebutkan di sini. Tabung kedip itu sendiri memiliki tegangan kerja anoda 300 - 400V, tegangan picu kurang lebih 4 kV, dan mampu menangani laju kedip yang diminta yaitu 0 kali perdetik.Energi pengosongan kedipan tidak lebih dari 0,08 joule. 
Lampu Pewaktuan

Pemakaian Unit

Pasang koil pada kawat busi (spark plug) no.1, hubungkan kawat daya pada baterai mobil, amatilah  polaritasnya. Hidupkan mesin, aturlah VR1 sehingga diperoleh laju kedipan yang mantap. bila kedipannya terasa janggal, cobalah anda putar pick up coil pada kawat HT. Kini pewaktuan dapat diperiksa dengan mengamati tanda pewaktuan pada roda gila mesin di bawah sorohan cahaya dari taubng pengkedip, ikutilah petunjuk buku penuntuk kendaraan untuk menyetel pewaktuannya. Biasanya anda perlu melepas tabung hampa udara di atanra karburator dan distrubutornya. Bila tersedia tachometer seperti yagn dijelaskan dalam proyek, pewaktuan dapat dipilh pada kecepatan mesin tertentu. Bila tidak tersedia, biasanya buku penuntun memberikan pewaktuan statik, gunakanlah nilai ini sebaik - baiknya, jalankan mesin pada kecepatan yang paling rendah. Nilai pewaktuan tak lain adalah tingkat kemudahan penyulut silinder no.1, yang dinyatakan dalam gerakan perputaran mesin dalam derajat sebelum piston mencapai posisi top dead centre (TDC) untuk silinder tersebut.

Daftar komponen untuk rangkaian lampu pewaktu pengapian

Resistor

R1, R2  220 ohm, 5W, lilitan kawat
R3        100 ohm, 5 W, lilitan kawat
R4         1 kilo ohm, 1/4 W, 5%, film karbon
R5        220 kilo ohm, 1/4 W, 5 %, film karbon
R6        4,7 kilo ohm, 1/4W, 5%, film karbon
VR1      4,7 kilo ohm, potensiometer karbon liner

Kapasitor

C1      1000uF, 25V, elektrolit
C2      10 uF, 500 V, polyester
C3      47 nF, polyester
C4      22nF, 600 V, film plastik atau dielektrik campuran
C5      1 uF. 1000 V, dielektrik campuran

Semikonduktor

TR1, TR2  2N3055
D1             1N5402
D2 - D8     1N4007
CSR1         TAG - 600 600 V thyristor lampu

Lain - lain

T1           Lilitan primer trafo jala - jala, dua buah lilitan sekunder 0 - 9V (atau lilitan tunggal 9-0-9V dengan batas daya minimum 6VA
T2        Trafo pemicu pulsa untuk menyesuaikan tabung strobe
FT1      Tabung kedip strobe xenon, misal jenis ZFT8 (anoda 300 - 400V)
L1         Lilitan "pick up coil" pada inti cincin ferrit FX1588 (diameter bagian dalam 1 inci)
FS1      Sekering putus cepat 3A dan pemegang
Kotak, tagboard, botol untuk tabung strobe
Kawat lepas dan penjepit buaya untuk hubungan daya ke baterai
Read More

Jumat, 20 September 2013

Rangkaian Tachometer


Tachometer atau lebih dikenal sebagai alat ' penghitung putaran' adalah instrumen yang amat berguna dalam membantu menentukan setelan mobil untuk mendapatkan penampilan terbaik. Dengan penyetelan tersebut orang dapat mengatur tingkat campuran bahan akarnya, menentukan pewaktuan paling tepat untuk kecepatan mesin yang dtitetapkan pabrik. Lazimnya pengemudi mobil lebih menyukai penunjukkan kecepatan yang kontinyu ketika mereka mengendarai mobilnya. Kedua fungsi  tachometer ini dikerjakan dengan baik oleh unit yang dipaparkan berikut.

Cara kerja rangkaian

Gambar di bawah ini menunjukkan diagram rangkaian tachometer untuk kendaraan sistem bumi negatif. Unit ini menggunakan pewaktu rangkaian terpadu, NE555, dalam modus astabil, dengan R6, R7, dan C2 menentukan lebar pulsa keluaran yang muncul pada pena 3 IC tersebut.Pada keadaan stasioner keluaran pena 3 IC1 adalah rendah, transistor internal mencegah C2 mengisi muatannya dengan jalan menahan pena 7 tetap rendah. Ketika pena picu (2) diambil kurang dari sepertiga tegangan catu ( kurang lebih di bawah 3V dalam hal ini) secara mendadak dengan suatu pulsa pada basis TR1 yang menyebabkannya menghantar, maka bistabil dalam IC1 akan dipicunya. Akibatnya pena 3 menjadi tinggi, efek pemotongan transistor internal pada pena 7 akan terhapuskan, C2 akan mengisi melalui R6. Karena kapasitor mengisi muatannya, maka dia melewatkan ambang kedua pada dua per tiga tegangan catu yang dirasakan melalui pena 6. Pada keadaan demikian, bistabil akan reset, pena 3 akan menjadi rendah dan transistor internal akan mengosongkan muatan C2. Kini IC1 kembali pada keadaan stasionernya dan siap untuk dipicu kembali oleh pulsa negatif berikutnya pada pena 2. Rangkaian yang berkaitan dengan TR1 membentuk pulsa - pulsa yang masuk menjadi spike yang akan dijangkitkan ketika pemutus kontak membuka. Pulsa - pulsa mengalir melalui D1, C1, R2, R3 dan persambungan basis emiter TR1, dan makin melemah ketika C1 mulai mengisi. Dioda zener D2 membatasi amplitudo spike sebelum dia menerobos transistor, karena tegangan transien ringing dapat mencapai 400V (transien ini bagaimana pun  juga tidak akan muncul dalam sistem pengapian elektronik) ketika pemutus kontak menyela arus koil pengapian. Sekali C1 terisi, dia akan mengosongkan muatanya hanya jika pemutus kontak menutup melalui lintasan resistansi yang lebih tinggi yaitu R1. Cara ini membantu mencegah munculnya pemicuan sporadis akibat getaran pemutus kontak, meskipun setiap kali IC1 dipicu, dia tidak akan terpicu lagi/ Jadi sebuah pulsa  akan muncul pada keluaran IC1 setiap kali pemtus kontak membuka. Deretan pulsa ini selanjutnya diumpankan melalui VR1, R8 dan meter, disertai C4 yang membantu menghaluskan gelombang pulsa, sehingga meter menunjukkanl level mantap yang sebanding dengan arus rata - rata yang mengalir melalui meter. Level ini tentu sebanding dengan kecepatan mesin, sehingga dengan kalibrasi meter akan memberi pembacaan kecepatan putaran mesin dalam putaran / menit. R6, R7, dan C2 menentukan lebar masing - masing pulsa dalam deret pulsa yang melintasi meter. Tabel 11.1 menunjukkan nilai - nilai komponen ini untuk mobil bersilinder 4,6, dan 8 (suatu mesin dengan n silinder akan membuka pemutus kontak n/2 kali setiap putaran mesin). D3, C5 dan R9 memberikan catu tegangan konstan yang layak dipercaya untuk IC1 dari sistem elektrik kendaraan tersebut, karena itu mereka menentukan acuan bagi arus pulsa yang melewati meter.
Rangkaian Tachometer


Konstruksi

Gambar di bawah ini menunjukkan tata letak untuk papan strip matrik tembaga 0,1 inci (17 strip x 33 lubang), beserta pemutusan jalur tembaga yang dibutuhkan. Terpisah dari hubungan dengan catu mobil 12 V, anda harus menghubungkan pemutus kontak dengan koil pengapian. Meter yang digunakan adalah jenis 1 mA, dan untuk pembacaan yang jelas gunakanlah skala putaran 270 derajat. Skala ini selanjutnya harus dikalibrasi  untuk menunjukkan pembacaan 6000 rpm pada simpangan skala penuh.Sebagai perlengkapan tambahan yang khususnya bermanfaat dalam membantu menentukan pewaktuan dan memperbaiki penampilan, dapat anda sertakan SW1 dan R7 untuk memberikan simpangan skala penuh 1500 putaran / menit ketika SW1 membuka.
Rangkaian Tachometer
Rangkaian Tachometer

Kalibrasi

VR1 digunakan untuk mengkalibrasi meter, sebaiknya pada awalnya komponen ini disetel penuh berlawanan arah jarum jam. SW1 diatur pada kisar 1500 putaran/ menit, rangkaian dihubungkan pada masukan tachometer seperti pada gambar di atas. Aturlah VR1 untuk memberikan pembacaan nilai - nilai yang diperlihatkan dalam Tabel 11.1. Kemungkinan lain tachometer dikalibrasi dengan membandingkannya dengan instrumen yang telah dikalibrasi, tentunya bila tersedia. Skala penuh tidak diperlukan dalam mengatur nilai - nilai ini, namun dengan nilai - nilai R6/R7 yang diperlihatkan, kisar simpangan skala penuh yang lebih rendah akan seperempat bagain di bawah kisar yang lebih tinggi.

sistem bumi positif dan pemilihan komponen

Karena polaritas positif dan negatif keduanya muncul pada pemutus kontak dalam kedua jenis sistem tanah, maka pada kenyataannya tachometer yang sama dapat dipakai baik untuk kendaraan sistem bumi positif maupun negatif. Bila dijumpai pembacaan yang aneh, cobalah anda perbesar C1 menjadi 0,22 mikro farad atau bahkan 0,47 mikro farad.

Tabel 11.1Nilai - nilai R6,R7 dan C1 untuk kalibrasi 50Hz

Rangkaian Tachometer
C4 berfungsi sebagai penghalus keluaran untuk pembacaan meter sebab tanpa komponen ini pembacaan akan terganggu pada kecepatan mesin yang rendah. Usahakan agar resistansi meter keseluruhan ditambah R8 bernilai lebih dari 1 Kilo ohm, maksudnya untuk membantu mengatasi kesulitan di atas. 

Tabel 11.2 Daftar komponen untuk tachometer

Resistor (1/4W, 5%, film karbon, kecuali dinyatakan lain)
R1         --> 1,8 kilo ohm
R2, R3  --> 330 ohm
R4          --> 100 ohm
R5        --> 10 kilo ohm
R6, R7   --> lihat tabel 11.1 (2%, oksida metal)
R8         --> buat resistansi meter menjadi 1 kilo ohm bila semula kurang dari itu
R9         --> 150 ohm (1/2 W)

Kapasitor 
C1, C3    --> 100nF, polyester
C2          --> lihat tabel 11.1, polyester
C4          --> 470 uF, 6,3V , elektrolit
C5          --> 220 uF, 16 V, elektrolit

Semikonduktor
TR1     --> BC108 
IC1      --> NE555V
D1       --> 1N4148
D2       --> BZY88 C5 V6, 400 mW, 5,6 V , dioda zener
D3       --> BZX61 C9 V1, 9,1V, 1,3W, dioda zener

Lain - lain
ME1   Meter panel, resistansi koil simpangan skala penuh 1 mA minimum 1 Kohm (atau tambahkan R8 agar resistansinya menjadi 1 Kohm)
SW1    Saklar geser atau saklar toggle SPST
Papan strip matrik tembaga 0,1 inci (17strip x 33 lubang)
Veropin
Kotak

Read More

Catu Daya Kaset / Radio

Ketika terjadi lonjakan harga baterai waktu itu, orang mulai memikirkan kebutuhan catu yang layak bagi radio atau cassete player mereka, lebih - lebih bila perangkat tersebut tidak bisa menggunakan baterai. Rangkaian yang dipaparkan di sini memberikan keluaran tegangan konstan yang bervariasi di antara 6 hingga 10 V dan ditentukan oleh resistor preset, sementara batas arusnya tetap yaitu 1A. Nilai - nilai tersebut sudah mencakup kisaran tegangan yang dibutuhkan yakni 6V, 7.5V, dan 9 V. Meskipun catu dapat dibuat dari chip regulator tegangan tetap yang ada di pasaran (misalnya 7805), dipadukan dengan resistor kopel dan resistor preset, tetapi untuk memberikan gambaran yang jelas akan teknik merancang regulator itu sendiri maka di sini sengaja dipilihkan rancangan komponen diskrit.

Cara kerja rangkaian

Diagram rangkaian uni ini diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Bila digunakan baterai mobil 12 V, persambungan basis - emiter mendapat prategangan maju melalui R1, menyebabkan TR2 menarik arus melalui persambungan basis - emiter TR1 dan melewatkan arus melalui dioda zener D3. Karena itu TR1 akan on, arus mengalir ke dalam beban melalui terminal Vout dan rantai pembagi tegangan VR1 dan R2. Dengan demikian tegangan pada slider VR1 dikendalikan oleh tegangan jatuh yang melintasi dioda zener D3 dan persambungan basis - emiter TR3. Karena basis TR3 menarik arus sangat kecil dari rantai pembagi, arus yang melalui rantai hampir seluruhnya ditentukan oleh tegangan slider VR! ( secara nominal nilainya konstan yaitu tegangan zener ditambah tegangan basis - emiter TR3) dibagi oleh resistansi antara slider VR1 dan jalur 0 V. Jadi tegangan yang muncul pada terminal Vout adalah tegangan pada slider VR1 dikalikan dengan perbandingan resistansi rantai (VR1 + VR3) terhadap resistansi antara slider VR1 dan jalur 0V. 
Untuk meregulasikan tegangan keluran suatu umpan balik kekerja dengan cara sebagai beriku; suatu umpan balik bekerja dengan cara sebagai berikut; suaut penurunan kecil tegangan pada Vout akibat tambahan arus beban yang ditarik menyebabkan tegangan slider VR1 ikut turun sedikit. Penurunan tegangam emiter basi TR3 selanjutnya mengakibatkan arus kolektor TR3 jatuh, persambungan basis - emiter TR2 akan menarik arus yang lebih besar untuk mengkompensasikannnya. Dengan demikian TR2 menarik lebih banyak arus melalui persambungan basis - emiter TR1, sehingga transistor regulator TR1 lebih menghantar, Vout akan naik untuk mengkompensasi penurunan tegangan akibat naiknya arus beban. Sebaliknya turunnya permintaan arus beban dengan kenaikkan Vout dari awal yang menyertainnya menyebabkan munculnya aksi umpan bali yang berlawanan. Jadi kenaikkan atau penurnan arus beban inilah yang mendorong munculnya aksi regulasi tegangan keluaran.
Catu Daya Kaset / Radio


Batas arus

Ketika arus beban meningkat lebih lanjut, tegangan yang melintasi R2 dan persambungan emiter - basis naik sampai pada level yang dibutuhkan untuk membuat D1 dan D2 menghantar. Kedua komponen ini akan memintar arus basi TR1 ketika mereka mulai menghantar. Aksi ini sebenarnya membatasi arus yang dapat mengalir ke dalam persambungan basis emiter TR1, menghasilkan arus arus yang besarnya sebanding dengan tegangan maju D1 terhadap resistasnsi R2,yang nilainya kurang lebih 1A dan bila R2 besarnya 0.68 ohm berguna untuk meningkatkan kestabilan rangkaian regulator.
Catu Daya Kaset / Radio

Konstruksi

Gambar di atas menunjukkan tata letak untuk papan strip matrik tembaga 0,15 inci ( 9 strip x 19 lubang). Papan yang telah dilengkapi dapat ditempatkan dalam kotak alumunium kecil, dan bila diperlukan kotak lain yang lebih permanen sebaiknya papan rangkaian dipasang di bawah dashboard pada tempat yang cocok. Hubungan colokan dan soket  yang cocok harus ada untuk keluaran catu daya.  Ingatlah bahwa hubungan elektrik langsung catu daya hanya terjadi dengan sistem elektrik kendaraan dan bukan dengan sasis mobil. Biasanya kotak sekering memberikan tempat yang cocok untuk hubungan ini. Alternatif hubungan lain dapat diperoleh dari soket cigarette lighter bila komponen ini tersedia.

Pemilihan Komponen dan Pemasangan

Nilai - nilai komponen yang diperlihatkan di sini rasanya tidak akan menyulitkan anda. Salah satu gangguan yang mungkin adalah bahwa keluaran tak dapat diatur hingga 6 V dari resistor preset. Untuk ini D3 dapat diganti dengan dioda lain dari jenis 4,7 V. Dianjurkan menggunakan dioda zener 1,3W, karena dia dapat melewatkan arus 50 mA ketika TR1 sedang mencatu arus maksimum. Transistor lain yang sejenis dapat dipakai untuk menggantikan jenis yang dianjurkan untuk TR1, TR2, dan TR3, Parameter penting yang harus diamati adalah batas arus kolektor dan penguatan DC. Untuk menyetel tegangan keluaran, hubungkan catu 12V pada masukkan dan pasanglah voltmeter pada terminal keluaran. Aturlah VR1 sehingga tegangan keluaran yang dibutuhkan diperlihatkan pada meter. Bila tersedia catu bengkel variabel untuk masukkannya, periksalah apakah tegangan keluaran tetap dipertahankan konstan untuk masukan sebesar 20 V yang diturunkan nilainya hingga kurang 1,5V di atas Vout. Amati juga apakah arus keluaran hubung singkatnya sekitar 1A. 

Daftar komponen untuk catu daya kaset / radio

Resistor(1/4W , 5%, film karbon, kecuali dinyatakan lain)
R1            10 kilo ohm
R2            0,68 ohm (2 W)
R3            4,7 kilo ohm
VR1          4,7 kilo ohm peset horisontal mini

Kapasitor
C1          6,8 mikro farad, 40 V, elektrolit
C2          22 mikro farad. 25 V, elektrolit

Semikonduktor
TR1       BD132
TR2       BFY51
TR3       BC108
D1, D2   1N4148
D3          BZX61 C5 V6 (5,6 V, 1.3W, dioda zener)

Lain - lain
Kotak alumunium
Papan strip matrik tembaga 0,15 inci (9 strip x 19 lubang)
Saklar on / off DPST, bila perlu
Plug / socket atau terminal masukan / keluaran yang dibutuhkan.
Read More